KELUARGA SEBAGAI PENDIDIKAN PERTAMA DALAM KEHIDUPAN
Oleh :
Hana Mulya
Warni
Mahasiswa PLS FIP UNP
Keluarga merupakan
lingkungan yang paling utama dalam kehidupan seorang anak. Pendidikan anak
bukan berarti dimulai saat anak dimasukan ke sekolah, akan tetapi dimulai sejak
ia lahir. Dimana rumah adalah sebagai sekolah pertama bagi anak. Rumah adalah
suatu bangunan yang dijadikan sebagai tempat tinggal dalam jangka waktu
tertentu dalam kehidupan manusia. Rumah harus menjamin kepentingan keluarga
yaitu untuk tumbuh, berkembang, bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, dan
lebih dari itu rumah harus memberi ketenangan, kebahagiaan dan kenyamanan
pada segala peristiwa kehidupannya.
Dirumah terdapat anggota
keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Masing-masing memiliki tugas dan
tanggung jawab yang berbeda dan harus dilakukan demi terwujudnya keluarga yang
harmonis,, rumah tangga yang aman damai dan sejahtera. Pendidikan pertama
dimulai dari keluarga, biasa disebut sebagai Pendidikan Informal yang mana pendidikan
informal dilakukan
seseorang dari lingkungan keluarganya sendiri maupun lingkungan masyarakat.
Oleh
sebab itu sudah saatnya bagi
masyarakat untuk mengubah pola pikir mereka terhadap pendidikan anaknya. Bukan
hanya rumah yang menjadi tempat perlindungan dari panas dan hujan saja tetapi
rumah sebagai sekolah pertama bukan berarti rumah yang memiliki banyak
peraturan dan mengikat secara formal, akan tetapi rumah yang memiliki rasa
kedamaian dan banyak pengetahuan di dalamnya.
Orang tua juga harus menempatkan diri mereka sebagai guru utama bagi
anaknya. Bukan hanya sebagai seorang yang selalu memberi penilaian kepada
anaknya terhadap segala hal. Akan tetapi menjadikan diri mereka sebagai
panutan serta pembimbing yang baik bagi anaknya. Dan juga menjadikan diri
mereka sebagai sahabat yang baik bagi anaknya. Yang mengetahui segala aktifitas
serta perasaan yang sedang dialami anaknya.
Untuk itu, ada beberapa
cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mendidik anaknya. Pertama, Memberi
Teladan Bukan Sekadar Contoh. Jika menginginkan anaknya baik dan saleh, maka
sudah seharusnya orang tua mencontohkan sikap terbaik di depan anak-anaknya,
karena bagaimanapun sikap anak tidak akan jauh dari apa yang ia lihat dari
lingkungan sekitarnya. Maka dalam hal ini orang tua tidak cukup hanya
memberikan contoh tetapi ia harus menjadi teladan bagi anaknya. Memberi
keteladanan berarti melakukan hal tersebut setiap waktu, bukan hanya
memberitahu, mengajarkan dan memberinya contoh sampai bisa lantas dibiarkan.
Learn to know, learn to do, learn to be.
Kedua, Membentuk Karakter
Bertanggung Jawab dengan Penugasan. Sebagian orang tua mungkin menganggap
kasihan dan tidak tega jika anaknya diberi tugas untuk mengerjakan pekerjaan
rumah, dan akhirnya ia akan menjadi anak manja dan malas bekerja. Memberikan
kasih sayang bukan hanya dengan memanjakan, memberinya tugas juga bagian dari
kepedulian orang tua terhadap anaknya agar ia terbiasa bertanggung jawab atas
segala hal. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua membiasakan memberi tugas
ringan sebagai edukasi bagi anak. Contohnya, membiasakannya merapihkan mainan
setelah digunakan.
Ketiga, Nasihat, Pelita dalam Gulita. Pemberian nasihat kepada
anak baik secara langsung maupun tidak langsung sangat diperlukan dalam proses
pendidikan, Nasihat bisa dijadikan sebagai pengingat dan juga tuntunan hidup.
Maka sudah seharusnya orang tua menasihati anak-anaknya tanpa bosan dan tanpa
lelah.
Keempat, Hadiah atas
Keberhasilan dan Hukuman atas Kesalahan. Memberikan hadiah saat anak berhasil
dan memberi hukuman ketika anak salah juga menjadi salah satu metode yang bisa
diterapkan dalam mendidik anak. Hadiah tersebut bisa berupa pujian ataupun
benda yang bermanfaat sesuai kebutuhan dan kesukaan anak. Adapun hukuman yang
dimaksud adalah hukuman yang mendidik seperti memberi tugas, beban kerja, atau
megurangi uang jajan. Kedua hal tersebut bisa memotivasi anak agar selalu
berbuat baik dan juga berhati-hati dalam bertindak agar tidak mengulangi
kesalahan yang sama.
Berdasarkan
penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa didalam proses mendidik anak
keluarga merupakan elemen penting yang memiliki peran utama untuk kemajuan dan
perkembangan kecerdasan anak. Baik dalam hal psikologi, spiritual dan intelektual.
Maka maasing-masing anggota keluarga memiliki tugas dan tanggung jawab yang
berbeda dan harus dijalankan sesuai dengan ketentuan yang ada, jika tugas dan
tanggung jawab itu dijalankan dengan sebagai mana mestinya maka keluarga akan
terbentuk keluarga yang harmonis sesuai dengan harapan baiti jannati (rumahku surgaku).
Dapat dikatakan
juga pendidikan keluarga mempunyai arti penting sebagai wadah antara
individu dan kelompok yang menjadi tempat pertama dan utama untuk anak
bersosialisasi. Ibu, ayah, saudara adalah orang yang pertama bagi anak untuk
mengadakan kontak dan tempat pembelajaran. Sedangkan Pendidikan utama
yang paling penting diajarkan dalam keluarga adalah Pendidikan karakter, dan
karakter Karakter
kita terdiri dari kebiasaan-kebiasaan kita. Kebiasaan yang terbentuk semasa
kanak-kanak dan remaja kerap bertahan hingga dewasa. Orang tua dapat
mempengaruhi pembentukan kebiasaan anak mereka, dalam hal yang baik maupun yang
buruk.
Untuk menanamkan karakter pada diri anak ada beberapa metode yang bisa
digunakan, antara lain :
1.
Internalisasi
Internalisasi
adalah upaya memasukkan pengetahuan (knowing) dan keterampilan
melaksanakan pengetahuan (doing) ke dalam diri seseorang hingga
pengetahuan itu menjadi kepribadiannya (being) dalam kehidupan
sehari-hari.
2.
Keteladanan
“Anak adalah
peniru yag baik.” Ungkapan tersebut seharusnya disadari oleh orang tua, sehingga
mereka bisa lebih menjaga sikap dan tindakannya ketika berada atau bergaul
dengan anak-anaknya. Berbagi keteladanan dalam mendidik anak menjadi sesuatu
yang sangat penting.
3.
Pembiasaan
Inti dari
pembiasaan adalah pengulangan. Jika orang tua setiap masuk rumah mengucapkan
salam, itu telah diartikan sebagai usaha membiasakan. Bila anak masuk rumah
tidak mengucapkan salam, maka orang tua mengingatkan untuk mengucapkan salam.
4.
Bermain
Masa anak-anak
merupakan masa puncak kreativitasnya, dan kreativitas mereka perlu dijaga
dengan menciptakan lingkungan yang menghargai kreativitas, yaitu melalui
bermain.
5.
Cerita
Sebuah cerita
mempunyai daya tarik yang menyentuh anak, dengan bercerita orang tua dapat
menanamkan nilai pada anaknya, sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari.
6.
Nasihat
Nasihat
merupakan kata – kata yang mampu menyentuh hati disertai dengan keteladanan.
Nasihat memadukan antara metode ceramah dan keteladanan, namun lebih diarahkan
pada bahasa hati.
7.
Penghargaan
dan Hukuman
Memberi
penghargaan kepada anak penting untuk dilakukan, karena pada dasarnya setiap
orang membutuhkan penghargaan dan ingin dihargai. Selain penghargaan, hukuman
juga bisa diterapkan untuk membentuk karakter anak. Penghargaan harus
didahulukan, dibandingkan hukuman.
Pendidikan karakter ini tidak akan berhasil dengan
baik dan tidak akan berarti apa – apa, apabila keluarga melepaskan tanggung
jawab pembentukan karakter hanya kepada sekolah. Peran keluarga dalam
pendidikan anak teramat besar, keluarga merupakan unsur terkecil dalam
masyarakat, dari keluarga pulalah anak belajar berperilaku dan bersikap sebagai
anggota masyarakat yang bermartabat.
Terakhir dapat disimpulkan bahwa sebagai institusi pertama tempat berlangsungnya proses Pendidikan anak,
maka orang tua sebagai penanggung jawab Pendidikan keluarga harus benar-benar
dapat menyikapi kenyatan ini dengan benar dan mengkondiidisikan lingkungan
keluarga dengan suasana Pendidikan. Pengkondisian ini dilaksanakan melalui
pengajaran, pembiasaan, keteladanan yang bertujuan untuk membentuk Pendidikan utama
yaitu Pendidikan karakter. Dengan adanya pengkondisian ini diharapkan anak-anak
tumbuh dan berkembang sebagai manusia-manusia yang beradab, berpendidikan, dan berkarakter.
InsyaaAllah dapat berguna bagi dirinya sendiri, agama, keluarga, dan
masyarakat. Sehingga akan menjadi generasi yang berakhlaqul karimah.
Mantap sekali
BalasHapus