Kesesuaian TIK dengan Kebutuhan Warga Belajar

Kesesuaian TIK dengan Kebutuhan Warga Belajar


Oleh : Hana Mulya Warni

Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah  
Fakultas Pendidikan
Universitas Negeri Padang

Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Sedangkan contoh-contoh program pendidikan nonformal adalah Paket A, Paket B, Paket C, kursus, keaksaraan fungsional, taman bacaan masyarakat, kelompok bermain (play group) dan sebagainya. 

Saat ini berkembang stereo type bahwa peserta didik untuk pendidikan nonformal seringkali berasal dari kalangan masyarakat yang secara ekonomi berada pada level menengah ke bawah. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar terutama untuk program kursus dan pendidikan anak usia dini, tetapi tidak bisa dipungkiri untuk program-program yang lain semacam Paket A, B, C dan keaksaraan fungsional para peserta didik memang sebagian besar berasal dari 
kalangan masyarakat yang kurang beruntung secara finansial. Pada kelompok 
masyarakat ini umumnya aktifitas mereka masih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan pendidikan bahkan tidak menjadi sebuah 
kebutuhan mendasar bagi mereka. 

Ditinjau dari jenis program dan sasaran peserta didik tampak bahwa pendidikan nonformal memiliki area yang sangat luas. Pendidikan nonformal tidak mempunyai sebuah pola yang rigid dan dapat berlangsung di mana saja. Dari sebuah kelompok belajar membaca bagi orang-orang buta aksara di pedalaman Nusa Tenggara Timur hingga kursus sertifikasi tingkat internasional pada sebuah gedung mewah di Jakarta semuanya masuk dalam area pendidikan nonformal. 

Tulisan berikut ini hendak membahas peluang penerapan teknologi 
informasi dan komunikasi (TIK) dalam menciptakan perluasan akses dan 
peningkatan kualitas pendidikan nonformal. Sejenak mari kita tinggalkan bentuk-
bentuk pendidikan nonformal yang sudah mapan dan dijalankan oleh satuan-
satuan pendidikan nonformal dengan dukungan manajemen dan finansial yang 
kuat. Kita tidak akan membahas kursus kursus dengan skala nasional, juga kelompok bermain dan bentuk lain pendidikan anak usia dini yang sudah terstruktur dengan baik. Penerapan TIK yang hendak dibahas di sini adalah pada 
program-program pendidikan nonformal dengan sasaran anak-anak putus sekolah, 
orang-orang buta huruf, dan pelatihan-pelatihan Lifeskills dalam kerangka 
pemberdayaan masyarakat. 

Beberapa program yang mencoba mengkaji akan penerapan TIK di dalam 
pendidikan dengan sasaran orang-orang yang tidak memiliki kemampuan baik 
finansial maupun akses untuk mengikuti pendidikan formal antara lain adalah 
Information Technologies and Education for the Poor in Africa/ ITEPA dari DFID 
( www.dfid.gov.uk) atau program ICT in Education in the Asia-Pacific Region 
dari UNESCO (www.unescobkk.org/education/ict ). Program-program di atas menghasilkan berbagai prinsip dan kerangka pikir yang dapat menjadi acuan penerapan TIK dalam pendidikan nonformal. 

Berikut ini adalah gambar dari pelaksanaan proyek ICT in Education in the Asia Pacific Region oleh UNESCO Asia. Seperti disebutkan di atas bahwa peserta didik pendidikan nonformal ada yang berasal dari warga masyarakat yang memiliki keterbatasan untuk dilayani oleh pendidikan formal. Pada umumnya mereka adalah masyarakat miskin, putus sekolah, buta huruf, terletak di pedalaman terpencil yang kesulitan untuk mengakses sekolah, dan berbagai permasalahan lainnya. Melihat berbagai karakteristik tersebut mungkin pikiran pertama yang akan muncul adalah sikap apatis. 

Bagaimana mungkin TIK yang identik sebagai sebuah teknologi yang mahal dan rumit dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan yang justru ditujukan untuk warga masyarakat yang berasal dari kalangan ekonomi lemah dengan 
tingkat pendidikan rendah? 

Sebenarnya kesalahan utama justru terletak pada paradigma bahwa TIK adalah teknologi mahal dan rumit. TIK selalu ditempatkan sebagai sesuatu obyek yang canggih, mahal, dan memerlukan keahlian khusus untuk menggunakannya. TIK belum dianggap sebagai sebuah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Orang yang bisa mengoperasikan komputer masih mendapat kelas tersendiri dan dianggap terpelajar. 
Saat ini sudah selayaknya TIK dianggap sebagai sebuah kebutuhan hidup sehari-hari bagi masyarakat. Jangan lagi menganggap komputer sebagai barang mewah dan rumit tetapi sudah saatnya dianggap sama umumnya dengan sepeda motor ataupun televisi yang semua orang berhak menggunakannya. Pada dasarnya 
telepon seluler adalah salah satu bentuk TIK yang paling umum digunakan dimasyarakat dan saat ini tingkat penetrasinya di berbagai lapisan masyarakat sangat luar biasa.


Komentar

Posting Komentar